Benda Gaib Peninggalan Bokkot Raja Sitanggang Upar

Pastor Nelson Sitanggang OFCM saat mengoles minyak, supaya benda pusaka peninggalan Bokkot Raja awet

Sebagai titik nol peradaban Batak, di Samosir masih banyak ditemukan berbagai macam benda benda peninggalan nenek moyang terdahulu, yang memiliki nilai nilai sejarah penting bagi orang Batak.

Biasanya benda benda peninggalan nenek moyang Batak terbuat dari Batu yang dipahat dengan berbagai jenis bentuk dan kayu yang diukir sedemikian rupa. berbagai benda peninggalan itu sudah ada yang memiliki usia hingga ratusan tahun lamanya.

Disudut kota Pangururan, tepatnya di Perkampungan Upar Nabolak desa Lumban Pinggol, Kecamatan Pangururan, Kabupaten Samosir, benda benda peninggalan ini masih ditemukan yaitu benda pusaka peninggalan Bokkot Raja Sitanggang Upar.

Menurut keterangan dari keturunan Bokkot Raja Sitanggang Upar, Ia salah satu sosok yang sakti pada jaman dulu, itu dibuktikan dengan benda benda peninggalanya yang masih disimpan di Kampung Upar.

Adapun berbagai benda yang merupakan peninggalan Bokkot Raja Sitanggang Upar yang masih bisa ditemukan saat ini diantaranya, Mata idup, Pedang Solam debata, Gordang, Tanduk Toal, Batu Parmasan dan Sopo yang disebut dengan Rangin.

Mata idup adalah Jenis kayu keras yang diukir berbentuk patung laki laki dan perempuan. Jaman dulu benda ini dipercaya memiliki kemampuan untuk menjaga perkampungan Upar dari berbagai jenis bahaya yang mengancam, karena kedua Patung ini memiliki Roh penjaga atau yang disebut dengan Pangulu balang.

Pedang Solam debata merupakan pedang yang selalu disandang oleh Bokkot Raja kemanapun dia pergi, sedangakan pedang yang digunakan untuk berhadapan dengan lawan sengaja tidak diwariskan kepada keturunanya karena takut disalah gunakan, sebab pendang itu sangat haus akan darah manusia.

Gordang adalah sebuah Gendang gaib yang berukuran cukup besar. Uniknya, Gendang ini hanya bisa dipalu pada saat tertentu yakni pada saat Bulan Purnama dan tak semua orang yang bisa memainkan gendang ini kecuali boru Malau.

Karena Cahaya bulan Purnama sesuatu yang sangat penting bagi orang batak, khususnya bagi yang sedang melakukan ritual, maka cahaya bulan itu tidak boleh tertutup oleh awan, ketika Awan menutupi cahaya bulan dengan cepat para orangtua akan memanggil seorang perempuan yang bermarga malau untuk memainkan gendang ini seraya menyerukan “Paulak Bulan i Akka lau” yang artinya kembalikan bulan itu awan gelap. Saat itu dilakukan, Seketika awan akan menyingkir dari cahaya bulan, sehingga ritual kembali dilanjutkan.

Tanduk Toal, Benda ini terbuat dari Tanduk Kerbau yang tidak kalah gaibnya dengan benda benda lainya. Tanduk toal memiliki fungsi khusus untuk hewan ternak yaitu Kerbau. Jika tanduk tola ini dimasukkan ketanduk kerbau lainya, maka dengan mudah kita bisa membengkkokkan tanduk kerbau itu sesuka hati kita. Benda ini sengaja dikasih ke Hula hulanya Naibaho Siagian untuk disimpan karena mungkin takut disalah gunakan.

Batu Parmasan, Benda ini terbuat dari batu yang dipahat namun benda ini bukan benda gaib, akan tetapi benda ini disebut parmasan karena dianggap sangat berhargai bagaikan emas. Batu parmasan adalah batu penyimpanan tulang belulang dari para leluhur yang digali dari kuburnya pada saat acara Pesta Mangongkal holi, kemudian sesudah tiba waktunya tulang belulang itu akan diantarkan ke Dolok natimbu atau tambak natimbo atau dolok Paromasan pada waktu sipaha sada atau bulan pertama pada tahun batak.

Kemudian Sopo Rangin, benda ini adalah sebuah bangunan yang berbentuk Rumah Batak dan memiliki relief Gorga Batak. ini digunakan sebagai tempat penyimpanan benda benda pusaka pada jaman itu, kemudian Sopo Rangin ini juga dijadikan sebagai tempat melakukan ritual.

Uniknya, pada dinding bagian atas tertulis “Moelaipi Natoere Roema Poesako 20/11/2604” yang artinya menjelaskan tahun pembuatan, sementara sekarang masih tahun 2022. Menurut pengakuan dari warga setempat, Sopo Rangin ini sudah berulang kali direnovasi dan diyakini bahwa tanggal, bulan dan tahun yang tertulis pada dinding itu adalah tahun Batak.

Itulah beberapa jenis peninggalan Bokkot Raja Sitanggang Upar yang memiliki makna penting bagi para keturunanya dan masih tersimpan hingga sekarang.

Penulis: Jepri Sitanggang

Makanan Khas Batak yang Sudah Terlupakan?

Seiring perkembangan jaman, orang Batak kerapkali mengadopsi budaya asing sehingga lupa akan budaya sendiri, salah satunya Makanan Khas Batak.

Ternyata Nenek moyang Batak terdahulu banyak membuat resep dan jenis makanan yang unik dan tidak akan kita temukan dimana saja. Saat ini banyak makanan khas Batak itu yang sudah terlupakan.

Salah satu makanan Khas Batak yang sudah terlupakan yaitu “Sipitudai“. Nilappian ini bahan dasarnya terbuat dari kepala Kuda yang diolah jadi bubur dengan bahan rempah rempah, biasanya ini didapat dalam acara tertentu adat Batak seperti Pesta Saur matua (meninggal pada usia tua dan semua keturunan sudah menikah). Kemudian acara adat perhimpunan marga.

Kemudian “Nilappian”. Nilappian adalah makanan khas Batak yang sudah cukup tua, biasanya bahan untuk membuat lappian terbuat dari Daging yang digantung hingga beberapa hari, lalu diolah sedemikian rupa. Saat menikmati makanan ini, kita tak menyangka rasanya yang cukup nikmat, meski terbuat dari daging yang disimpan cukup lama.

Bukan itu saja, saat ini kita juga sudah sangat jarang orang Batak menghidangkan “Naniura”. Naniuran bahan dasarnya adalah ikan Segar yang dimasak dengan menggunakan bumbu khusus seperti Jeruk Nipis, Lada dan Andalim. Ikan Naniura dimasak tidak menggunakan api, melainkan matang dengan bumbu bumbu khusus. Biasanya seseorang yang pernah menikmati Ikan Naniura akan ketagihan ingin menikmatinya lagi.

Lalu pernahkah kamu mendengar masakan khas Batak yang bernama Nanisorbuk? Masakan khas Batak yang satu ini juga tidak kalah unik dengan Nilappian, Sipitudari dan Naniura.

Sama seperti Naniura, bahan Nanisorbuk juga terbuat dari Ikan Mujahir, namun untuk Naisorbuk dibutuhkan ikan yang berukuran kecil, pada jaman dulu disebut “Ikan Namartakka”.

Selain bumbu dapur seperti cabe, garam dan andaliman, bumbu utama Ikan Naisorbuk adalah Jagung yang digongseng kemudian digiling sampai menjadi tepung, lalu dicampur dengan bumbu bumbu dapur. Setelah Ikanya direbus lalu dilumuri dengan bumbu yang terbuat dari Jagung yang sudah dicampur dengan bumbu dapur tersebut.

Seteleh dimasak, Ikan Naisorbuk bisa bertahan berminggu minggu bahkan bulan, justru semakin lama Ikan Naisorbuk akan semakin nikmat rasanya. Biasanya disimpan didalam sebuah Tandok atau yang disebut dengan “Bahul bahul” yang terbuat dari daun panfan berduri atau dalam bahasa Batak disebut Bayon.

Kemudian “Sirapege” Sama seperti Naniura, Sirapege juga tidak dimasak menggunakan api, melainkan dengan bumbu semata. Sirapege terbuat dari daging Ayam yang seteleh dibakar sekejap untuk menghilangkan bulunya, lalu dipotong potong dipisahkan dari tulangnya. Kemudian dekonsumsi secara bersamaan dengan bumbunya seperti Garam, Jahe, Bawang, Cabe rawit dan Jeruk nipis.

Selain Nilappian, Sipitudai, Naniura, Nanisorbuk dan Sirapege, mungkin masih ada masakan Khas Batak yang sudah terlupakan. Saat ini makanan Khas Batak yang sering kita temukan adalah Napinadar, Natinombur dan Naniarsik.

Makna dari “Ama dan Ina” Bagi Orang Batak

Ada istilah bagi orang Batak “Magodang anak pangolihonon, magodang boru pamulihonon” yang berarti saat anak sudah dewasa sudah merupakan tanggung jawab orangtua untuk menikahkanya. Bahkan menjadi keluhan besar bagi orangtua ketika anaknya yang sudah dewasa belum juga menikah atau dapat jodoh.

Nah…ketika seorang anak laki laki sudah menikah maka itu disebut Ama dan seorang anak perempuan yang sudah menikah disebut Ina.

Ternyata sebutan Ama bagi laki laki dan Ina bagi perempuan bukan asal dibuat buat. Para leluhur terdahulu sudah mengkaji lebih dulu lalu menyematkan sebutan itu bagi yang sudah menikah.

Ama yang dimaksud ternyata memiliki arti sesuai dengan tugas dan tanggung jawabnya yaitu “Aha mambaen adong” yang artinya bagaimana menciptakan yang tidak ada menjadi ada. Nah, kalimat ini saangat mudah untuk dimengerti dimana sudah merupakan tanggungjawab seorang Ama (suami) bekerja mencari nafkah untuk menghidupi anak dan istrinya dan harta benda yang kelak diwariskan kepada anak anaknya.

Kemudian Ina yang dimaksud adalah “Inganan ni Na adong” yang artinya Mengumpul segala sesuatu yang dicari oleh suami, atau bisa dibilang sebagai lumbung tempat penghasilan suami.

Berkaitan dengan adat Batak, ketika seorang ayah meninggal dunia disana ada dilakukan adat yang disebut dengan “Manjalo Pinukka” yang artinya meminta sebahagian harta dari hasil yang dikerjakanya sewaktu hidup.

Kemudian ketika seorang Ibu yang meninggal dunia, maka acara adat yang dilakukan adalah “Buka Hombung” yang artinya membuka barang simpanan seperti uang dan emas.

Namun sangat disayangkan yang menjadi polemik bagi orang Batak, ketika seorang ayah menikah dua kali dan memiliki keturunan dari istri pertama dan kedua. Tak

Ahli Waris Harta Kekayaan dalam Budaya Batak

Rumah bolon yang merupakan Rumah adat Batak Toba

Pembagian harta benda secara turun temurun seringkali terjadi kontroversi di daerah Batak. Beda wilayah, maka beda pula cara pembagian harta warisan orangtua kepada anak anaknya.

Contohnya di daerah Pangururan Kabupaten Samosir, dominan harta kekayaan peninggalan orangtua dikuasai oleh anak paling sulung, kecuali Rumah diwariskan ke anak yang paling bungsu.

Warisan Rumah kepada anak yang paling bungsu juga sering terjadi kesalahn fahaman di Pangururan, dalam hal ini tentu saja ada yang perlu diperhatikan, karena seringkali anak bungsu mengklaim rumah yang bukan miliknya. Lalu Rumah yang mana yang menjadi warisan anak bungsu?

Seorang ayah membangun rumah yang akan diwariskan kepada anaknya yang paling bungsu, lalu anaknya yang paling bungsu kelak kalau sudah menikah, rumah yang diwarisakn ayahnya akan diwariskan kepada anaknya yang paling sulung, demikian seterusnya jika rumah itu masih utuh akan diwariskan ke anak yang paling sulung.

Namun rumah yang dibangun oleh anak yang paling bungsu itu akan diwariskan lagi kepada anaknya yang paling bungsu pula.

Jadi kesimpulanya, Rumah yang diwariskan kepada anak yang paling bungsu adalah rumah yang dibangun oleh ayahnya. Kemudian rumah yang sama akan diwariskan kepada keturunan yang paling sulung dari anak bungsu tersebut.

Beda lagi diwilayah Lumban Suhi suhi dan wilayah lainya di Samosir, Rumah peninggalan ayahnya selalu diwariskan kepada anak yang paling sulung secara turun temurun.

Begitu juga dengan pembagian tanah, anak sulung paling banyak peranya untuk memberikan bagian dari adik adiknya. Lalu bagi sebahagian orang ada juga yang diberikan kepada anak perempuanya.

Pemberian warisan kepada perempuan ada berbagai alasan. Pada umumnya warisan yang diberikan kepada perempuan adalah sebidang tanah. Biasanya ini diberikan pada saat orangtuanya meninggal. Dalam adat Batak, pemberian tanah ini disebutlah “Upah Pandungoi”.

Bagaimanakah Tarombo Parna?

Pomparan Raja Naiambaton atau yang disebut dengan Parna, merupakan perhimpunan marga yang bisa dikategorikan paling banyak diantara perhimpunan marga lainya di suku Batak, karena marga parna mencapai hingga 60 an marga.

Akan tetapi dalam menentukan Silsilah atau Tarombo Parna hingga saat ini masih kontro versi, karena ada beberapa marga yang termasuk dalam Parna ini saling klaim Tarombo masing masing.

Hal ini dapat kita lihat diberbagai Group medsos seperti group Facebook, banyak kita temukan group Parna yang isinya dominan perdebatan tentang silsilah atau tarombo Parna.

Berbagai versi yang kita temukan menjadi perdebatan hangat khususnya di media sosial diantaranya versi Parna siLima Oppu dan Parna sidua Oppu.

Dalam versi silima Oppu, Raja Naiambatano memiliki lima orang anak yakni Bolon tua, Tamba tua, Munte tua, Saragi tua dan Nahampun tua. Dalam versi ini marga dari keturunan Raja Sitempang diantaranya marga Sitanggang, tidak setuju bahwa Raja Sitempang merupakan keturunan dari Munte tua dengan berbagai alasan yang diutarakan dari pihak marga itu sendiri.

Sedangkan dalam versi sidua Oppu, Raja Naiambaton hanya memiliki dua orang anak yakni Raja Nabolon dan Raja Sitempang, namun keduanya lahir dari satu orang ayah dan dua orang ibu.

Dalam versi sidua Oppu ini yang menjadi perdebatan adalah siapa diantara dua ini yang merupakan keturunan dari istri pertama dan kedua, sebab anak yang pertama lahir adalah dari istri kedua lalu kemudian istri pertama melahirkan anak kedua.

Kisahnya, Raja Naiambato menikah dengan istri pertamanya, setelah cukup lama tidak memiliki keturunan, lalu Raja Naiambaton menikah dengan istri keduanya dan melahirkan seorang anak. Tak lama kemudian istri pertamanya juga melahirkan anak keduanya.

Menurut adat Batak, anak yang lahir dari istri pertama adalah anak yang paling sulung dan pemegang tahta atau disebut dengan Haha ni Harajaon meski dia tidak lahir lebih dulu. Kemudian anak yang lahir dari istri kedua adalah disebut Haha ni Partubu namun bukan pemegang kesulungan dalam tahta meski dia lahir lebih dulu.

Hingga saat ini, Tarombo Parna belum dapat dipastikan dan dijadikan satu persepsi lalu diakui diseluruh marga Parna, sehingga yang terjadi adalah saling meyakini tarombo dengan versi masing masing. Namun yang menjadi kelebihanya adalah sampai sekarang marga ini tidak boleh menikahi sesama marga parna lainya.

Batak Bermahkota dan Tinggal Di Istana Tak Pernah Runtuh

Samosir merupakan pulau jang unik diantara Pulau jang ada, ia dikelilingi danau Toba, uniknya lagi dalam Pulau ini ada lagi beberapa Danau; ada Sidihoni, Peaporohan dan Aek Natonang.

Samosir dikenal diseantero djagat raya karena Danau Tobanya, keindahanya mampu memikat perhatian insan dari seluruh penjuru bumi. Datang ke danau ini membuat mereka ingin datang lagi.

Selain Danau Toba, masih banyak kekayaan alam jang menjadi daya tarik bagi pengunjung ke Samosir antaralain; Air terjun, pebukitan jang viewnya indah dan juga situs situs budaya Batak.

Batak pada umumnya percaya bahwa Samosir adalah titik nol peradaban Batak, tepatnya dari Sianjur mula mula. Disana masih banyak didapati situs situs peninggalan leluhur Batak terdaholoe dan sebahagian besar sudah difugar kembali.

Kemudian Ulos Batak juga merupakan peniggalan leluhur jang menjadi daya tarik dan patut dilestarikan, karena Ulos adalah pakaian pertama jang digunakan orang Batak terdahulu dan kini menjadi pakaian adat.

Bukan itu saja, Adat dan Kearifan lokal juga merupakan aset jang layak sebagai daya tarik jang tak kalah dari indahnya alam dan situs budaya Batak.

Adat Batak merupakan warisan leluhur jang diteruskan secara turun temurun hingga saat ini, karena adat Batak melekat dalam diri orang Batak jang tak akan hilang ditelan kemajuan djaman walau berinteraksi dengan modernisasi.

Salah satu bentuk adat batak jang melekat dalam diri orang batak adalah Dalihan Natolu. Dalihan Natolu merupakan hukum adat jang mengikat bagi setiap insan batak, karena Dalihan Natolu merupakan Istana atau Benteng dari kerajaan batak yang tak akan mungkin pernah runtuh sampai kapanpun.

Kalau Dalihan natolu dianggap sebagai Benteng atau Istana bagi keradjaan Batak, dalam satu keradjaan yang memiliki istana tersebut juga tentunharus memiliki Mahkota dikeradjaanya.

Melihat beberapa negara jang sistem pemerintahanya Keradjaan dan diatur oleh Radja, tentu Radja jang dimaksud pasti memiliki Mahkota jang mungkin terbuat dari emas, perunggu atau barang berharga lainya. Akan tetapi bukan itu mahkota yang dimaksud dalam kerajaan Batak.

Batak memiliki Istana jang tak runtuh karena bangunanya bukan dari Batu, Kayu ataupun Baja melainkan Hukum adat Dalihan Natolu, begitu juga dengan Mahkotanya tidak terbuat dari benda yang bisa dibeli dengan harta kekayaan, lalu apakah mahkota itu?

Setiap orang batak baik laki laki maupun perempuan dinobatkan memiliki Marga, ini akan melekat pada dirinya hingga dia mati. Mengingat bahwa Batak menganut sistem Patrilineal atau Patriarkat atau Patriarki, marga jang diturunkan adalah marga dari Ayahnya.

Jadi “Marga” adalah “Mahkota’”bagi putra dan dan putri Batak, karena semua insan Batak adalah anak Radja dan putri Radja sejak dia dilahirkan. Maka dapat disimpulkan bahwa “Istana kerjaan Batak tidak akan pernah runtuh dan Mahkotanya tidak akan hilang”.

(Tulisan ini hanya inspirasi dan pendapat pribadi yang tidak dikaji secara ilmiah)

(Sitanggang Margana)