
Sebagai titik nol peradaban Batak, di Samosir masih banyak ditemukan berbagai macam benda benda peninggalan nenek moyang terdahulu, yang memiliki nilai nilai sejarah penting bagi orang Batak.
Biasanya benda benda peninggalan nenek moyang Batak terbuat dari Batu yang dipahat dengan berbagai jenis bentuk dan kayu yang diukir sedemikian rupa. berbagai benda peninggalan itu sudah ada yang memiliki usia hingga ratusan tahun lamanya.




Disudut kota Pangururan, tepatnya di Perkampungan Upar Nabolak desa Lumban Pinggol, Kecamatan Pangururan, Kabupaten Samosir, benda benda peninggalan ini masih ditemukan yaitu benda pusaka peninggalan Bokkot Raja Sitanggang Upar.
Menurut keterangan dari keturunan Bokkot Raja Sitanggang Upar, Ia salah satu sosok yang sakti pada jaman dulu, itu dibuktikan dengan benda benda peninggalanya yang masih disimpan di Kampung Upar.
Adapun berbagai benda yang merupakan peninggalan Bokkot Raja Sitanggang Upar yang masih bisa ditemukan saat ini diantaranya, Mata idup, Pedang Solam debata, Gordang, Tanduk Toal, Batu Parmasan dan Sopo yang disebut dengan Rangin.
Mata idup adalah Jenis kayu keras yang diukir berbentuk patung laki laki dan perempuan. Jaman dulu benda ini dipercaya memiliki kemampuan untuk menjaga perkampungan Upar dari berbagai jenis bahaya yang mengancam, karena kedua Patung ini memiliki Roh penjaga atau yang disebut dengan Pangulu balang.
Pedang Solam debata merupakan pedang yang selalu disandang oleh Bokkot Raja kemanapun dia pergi, sedangakan pedang yang digunakan untuk berhadapan dengan lawan sengaja tidak diwariskan kepada keturunanya karena takut disalah gunakan, sebab pendang itu sangat haus akan darah manusia.
Gordang adalah sebuah Gendang gaib yang berukuran cukup besar. Uniknya, Gendang ini hanya bisa dipalu pada saat tertentu yakni pada saat Bulan Purnama dan tak semua orang yang bisa memainkan gendang ini kecuali boru Malau.
Karena Cahaya bulan Purnama sesuatu yang sangat penting bagi orang batak, khususnya bagi yang sedang melakukan ritual, maka cahaya bulan itu tidak boleh tertutup oleh awan, ketika Awan menutupi cahaya bulan dengan cepat para orangtua akan memanggil seorang perempuan yang bermarga malau untuk memainkan gendang ini seraya menyerukan “Paulak Bulan i Akka lau” yang artinya kembalikan bulan itu awan gelap. Saat itu dilakukan, Seketika awan akan menyingkir dari cahaya bulan, sehingga ritual kembali dilanjutkan.
Tanduk Toal, Benda ini terbuat dari Tanduk Kerbau yang tidak kalah gaibnya dengan benda benda lainya. Tanduk toal memiliki fungsi khusus untuk hewan ternak yaitu Kerbau. Jika tanduk tola ini dimasukkan ketanduk kerbau lainya, maka dengan mudah kita bisa membengkkokkan tanduk kerbau itu sesuka hati kita. Benda ini sengaja dikasih ke Hula hulanya Naibaho Siagian untuk disimpan karena mungkin takut disalah gunakan.
Batu Parmasan, Benda ini terbuat dari batu yang dipahat namun benda ini bukan benda gaib, akan tetapi benda ini disebut parmasan karena dianggap sangat berhargai bagaikan emas. Batu parmasan adalah batu penyimpanan tulang belulang dari para leluhur yang digali dari kuburnya pada saat acara Pesta Mangongkal holi, kemudian sesudah tiba waktunya tulang belulang itu akan diantarkan ke Dolok natimbu atau tambak natimbo atau dolok Paromasan pada waktu sipaha sada atau bulan pertama pada tahun batak.
Kemudian Sopo Rangin, benda ini adalah sebuah bangunan yang berbentuk Rumah Batak dan memiliki relief Gorga Batak. ini digunakan sebagai tempat penyimpanan benda benda pusaka pada jaman itu, kemudian Sopo Rangin ini juga dijadikan sebagai tempat melakukan ritual.
Uniknya, pada dinding bagian atas tertulis “Moelaipi Natoere Roema Poesako 20/11/2604” yang artinya menjelaskan tahun pembuatan, sementara sekarang masih tahun 2022. Menurut pengakuan dari warga setempat, Sopo Rangin ini sudah berulang kali direnovasi dan diyakini bahwa tanggal, bulan dan tahun yang tertulis pada dinding itu adalah tahun Batak.
Itulah beberapa jenis peninggalan Bokkot Raja Sitanggang Upar yang memiliki makna penting bagi para keturunanya dan masih tersimpan hingga sekarang.
Penulis: Jepri Sitanggang




